Halaman Facebook Twitter Warta Lumajang Langganan Berita
Polisi Tangkap 6 Anggota Komplotan Curwan
Jumat, 28 Agustus 2015 17:27 WIB
Wartalumajang.com - Aksi pencurian hewan khususnya sapi diwilayah selatan Lumajang sudah cukup meresahkan warga, pasalnya aksi ini sudah sering terjadi, namun pelakunya belum tertangkap. Berkat kerja keras tim Reskrim Polres Lumajang bersama jajaran Polsek diwilayah tersebut, 6 anggota komplotan se...
Perahu Terbalik Dihantam Ombak Ganas, Empat Nelayan Puger Hilang
Kamis, 27 Agustus 2015, 17:33 WIB
article thumbnail

Wartalumajang.com - Nasib tragis dialami 5 nelayan asal Puger Jember, perahu yang mereka naiki terbalik setelah dihantam [ ... ]

Nenek Ponisah, Tukang Pijat Balita Akhirnya Berangkat Haji
Rabu, 26 Agustus 2015, 17:37 WIB
article thumbnail

Wartalumajang.com - Nenek Ponisah (65), seorang ibu rumah tangga yang berprofesi sebagai tukang pijat balita yang tingga [ ... ]

2 Nenek Diamankan Polisi Karena Jual Miras
Rabu, 26 Agustus 2015, 17:32 WIB
article thumbnail

Wartalumajang.com - 2 orang wanita yang sudah lanjut usia atau sudah nenek-nenek terpaksa harus berurusan dengan pihak k [ ... ]

Truk Muat Aspal Tabrak 5 Mobil, Dua Mobil Masuk Jurang
Rabu, 26 Agustus 2015, 17:11 WIB
article thumbnail

Wartalumajang.com - Diduga mengalami rem blong, sebuah truk bermuatan aspal yang melaju dari arah Lumajang menuju ke Pro [ ... ]

Kamis, 06 Agustus 2015 07:05
Mampukah As’at Malik Membawa Lumajang Lebih Maju ? (Tangapan Publik - Bagian ke 2)
Tulisan pertama yang berjudul ”Mampukah As’at Malik Membawa Lumajang Lebih Maju ?” ternyata menuai tanggapan yang beragam. Baik dari masyarakat umum maupun dari kalangan birokrasi. Setidaknya tulisan itu dilihat sebagai sebu...

Aspirasi

Minggu, 10 Mei 2015 07:41
Menanti Pembangunan Lumajang Yang Inovativ (Bagian 1)
Dalam setiap pergantian kepemimpinan disetiap daerah, selalu saja lahir jargon yang mengarah kepada usaha perbaikan kesejahteraan masyarakat. Jargon-j...

Birokrasi

Satpol PP Hentikan Pengerjaan Tower Milik PT. Datalink

Selasa, 25 Agustus 2015
Satpol PP Hentikan Pengerjaan Tower Milik PT. Datalink <p><strong><span class="easy_img_caption" style="display:inline-block;line-height:0.5;vertical-align:top;background-color:#none;text-align:left;width:336px;float:left;margin:8px;8px;"><span class="easy_img_caption_inner" style="display:inline-block;line-height:normal;color:#000000;font-size:8pt;font-weight:normal;font-style:italic;padding:3px 5px;margin:0px;">Arif Sukamdi, Kabag Pemerintahan Desa Setda Lumajang</span></span>Wartalumajang.com </strong>- Kekosongan pejabat Kepala Desa (Kades) dipuluhan desa diseluruh wilayah Kabupaten Lumajang sejak lebih dari setahun terakhir, dipastikan masih akan berlanjut. Pasalnya, Pemkab Lumajang telah menetapkan pelaksanaan Pilkades (Pemilihan Kepala Desa) secara serentak, baru pada akhir tahun nanti. Arif Sukamdi, Kepala Bagian Pemerintahan Desa Pemkab Lumajang kepada wartawan mengatakan, Pilkades serentak baru akan diselenggarakan secara bersama-sama, pada akhir November mendatang.</p> <p>"Pelaksanaan Pilkades serentak akan diselenggarakan Kamis (26/11/2015). Jumlah Desa yang akan menggelar Pilkades serentak, sesuai data kami sebanyak 32 desa yang tersebar di 15 Kecamatan," kata Arif Sukamdi.</p> <p>Sebelum Pilkades serentak diselenggarakan, Pemkab Lumajang telah melakukan berbagai rangkaian kesiapan. Diantaranya mengajukan Perda dan membuat Perbup (Peraturan Bupati) tentang pelaksanaan Pilkades serentak. "Kesiapan regulasi yakni Perda dan Perbup tentang Pilkades yang merujuk ke Undang-Undang Nomor 6 Tentang Desa, PP (Peraturan Pemerintah) Nomor 43 dan Permendagri (Peraturan Menteri Dalam Negeri) Nomor 133 Tentang Pilkades sebagai payung hukumnya," jelas Arif Sukamdi kemudian.</p> <p>Kesiapan lainnya, menyusun administrasi pendukung berupa buku panduan. Terutama panduan ketika terjadi selisih hitung dalam pelaksanan Pilkades. "Sehingga apabila terjadi, maka pelaksana baik di level Desa maupun Kecamatan panitia sudah siap dengan solusinya," terangnya.</p> <p>Komunikasi dengan beberapa pihak lainnya juga sedang dilakukan. Kata Arif Sukamdi, pihak lain yang dimaksud diantaranya soal keamanan ketika Pilkades berlangsung. Didalamnya juga ada kepanitiaan Kabupaten untuk mengawal pelaksanaan Pilkades serentak ini. Komunikasi dan persiapan ini penting untuk dilakukan, karena menurut Arif Sukamdi, pelaksanaan Pilkades serentak di 32 Desa nanti akan sarat dengan beragam potensi gangguan Kamtibmas. Pasalnya, sejauh ini cukup banyak figur yang mulai bersiap untuk mendaftarkan diri sebagai calon.</p> <p>Sampai sejauh ini sudah tercatat ada 58 calon kepala desa dari 32 desa yang ada di Lumajang. Hal ini diketahui dari RS. Dr. Haryoto Lumajang, dimana para calon kades ini melakukan pemeriksaan kesehatan sebagai salah satu persyaratan untuk mencalonkan diri sebagai kepala desa. (ww)</p>

"> 26 September, Pilkades Serentak Di Lumajang ...
  • "> 3 Nama Casekda Diserahkan ke Bupati ...
  • "> 109 Napi Lumajang Dapat Remisi, 12 Diantaran...
  • "> Lebih Dari Lima Tahun Pimpin SKPD, Akan Sege...
  • Hukum

    Satreskrim Tengah Memburu 5 Pelaku Begal

    Senin, 24 Agustus 2015
    Satreskrim Tengah Memburu 5 Pelaku Begal <p><strong><span class="easy_img_caption" style="display:inline-block;line-height:0.5;vertical-align:top;background-color:#none;text-align:left;width:372px;float:left;margin:8px;8px;"><span class="easy_img_caption_inner" style="display:inline-block;line-height:normal;color:#000000;font-size:8pt;font-weight:normal;font-style:italic;padding:3px 5px;margin:0px;">Logo Perhutani</span></span>Wartalumajang.com</strong> - Kasus penangkapan Tarik alias Joyo (65) Warga Dusun Sidorejo Desa Pandansari Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, pada Selasa (28/7) lalu, semakin mengemuka. Penangkapan itu dilakukan dilakukan oleh gabungan dari Polres Lumajang dan Polhut Perhutani Probolinggo-Lumajang. Hal ini disampaikan oleh Misbakhul Munir, Waka KSHPH Lumajang, via telpon, Kamis (20/8) siang.</p> <p>Dia menjelaskan, penangkapan itu dilakukan karena Joyo dianggap telah melakukan kegiatan perkebunan tanpa ijin. “Yang ditangkap itu orang Probolinggo dan secara pengelolaan kehutanan itu masuk RPH Probolinggo,” katanya. Dijelaskan, dirinya merupakan wakil administrasi dan posisinya ikut mendampingi yang punya wilayah KPH Probolinggo.</p> <p>“Jadi, kalau ingin lebih jelas silahkan menghubungi KPH Probolinggo. Yang punya wilayah itu Probolinggo,” ungkapnya. Ditanya mengapa Joyo ditangkap dan proses di Lumajang, padahal dia merupakan orang Probolinggo dan melakukan kegiatan pertanian di KPH Probolinggo, Munir menjelaskan, KPH Probolinggo itu meliputi Probolinggo-Lumajang dan Besuki-Situbondo.</p> <p>“Kasus hukumnya di Lumajang secara administrasi pemerintahan ikut Lumajang tapi secara pengelolaan kehutanan itu masuk RPH Probolinggo, yang punya wilayah itu Probolinggo,” ujarnya. Secara administrasi ikut wilayah hukum Lumajang. Dari data yang ada, kegiatan ini dilakukan di petak 73 kawasan hutan Perhutani RPH Wonokerso, PKPH Sukopuro, KPH Probolinggo.</p> <p>Perlu diketahui, sebagaimana yang disampaikan Supangkat, pegiat Kelompok Tani Gucialit, bahwa Joyo awalnya merupakan salah seorang anggota LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) yang bekerja dibawah naungan Perhutani. Namun, setelah ada perber 3 menteri bersama BPN dia keluar dari LMDH dan mulai melakukan pendataan petani yang menggarap tanah hutan rakyat yang ditangani perhutani hingga akhirnya ditangkap di tegal garapannya di Gucialit, pada 28 Juli 2015, sekitar pukul 11.00 WIB.</p> <p>Sebelum diserahkan kepada aparat kepolisian, kata Supangkat, Joyo dihajar hingga pipi sebelah kirinya memar. Bukan hanya itu, di depan mata istrinya, celana Joyo juga dilepas hingga telanjang. Sedangkan uangnya sebanyak Rp 3.225.000,- dirampas. Sang istri yang protes atas penangkapan Joyo, dibentak dan diancam akan ditangkap juga.</p> <p>Sekedar mengingatkan, data yang pernah direlease Polres Lumajang, barang bukti yang berhasil diamankan dari Joyo antara lain uang tunai Rp 3, 1 juta, 2 buah cangkul, 1 buah tas pinggang warna hitam, 4 buah KTP asli, 1 buah foto kopi KTP dan 1 lembar sket gambar bagian lahan kelompok penggarap di blok pasang gosong, potongan ranting pohon kopi, 1 buah pohon pisang, 1 batang ketelah pohon, 1 ikat rumput. (syam)</p>

    "> Misbakhul Munir : Soal Penangkapan Joyo, Kal...
  • "> Polsek Ranuyoso Grebek Perjudian Di Desa Sum...
  • "> Rambu Larangan Truk Melintas Pagi Hari Mulai...
  • "> Curi 2 Motor dan 1 Senapan Angin, 3 Pelaku D...
  • Politik

    H. Lutfi Irbawanto Dan Dr. Buntaran Resmi Calon Wabup Lumajang

    Selasa, 18 Agustus 2015
    H. Lutfi Irbawanto Dan Dr. Buntaran Resmi Calon Wabup Lumajang <p><strong><span class="easy_img_caption" style="display:inline-block;line-height:0.5;vertical-align:top;background-color:#none;text-align:left;width:448px;float:left;margin:8px;8px;"><span class="easy_img_caption_inner" style="display:inline-block;line-height:normal;color:#000000;font-size:8pt;font-weight:normal;font-style:italic;padding:3px 5px;margin:0px;">Foto Ilustrasi</span></span>Wartalumajang.com</strong> – Panandatangan usulan calon wakil bupati Lumajang gagal lagi. Pertemuan tiga partai pengusung calon wakil bupati yang digelar Bupati Lumajang kembali menemui jalan buntu. Partai Golkar versi Agung Laksono menolak mendantangani form usulan calon wakil bupati Lumajang karena dua kubu partai Golkar masih beda nama soal calon wabup dari partai berlambang beringin itu.</p> <p>H. Hartono, calon wabup dari Partai Golkar versi Munas Ancol atau Golkar Versi AL kepada media ini mengatakan, penolakannya terhadap penandatangan usulan nama calon wakil bupati disebabkan oleh dua hal. Yang pertama karena Ketua DPD Partai Golkar Versi AL Ir. Agus Salim yang diundang dalam pertemuan itu tidak bisa hadir, sehingga tidak bisa membubuhkan tandatangannya. Yang kedua disebabkan perbedaan perbedaan nama calon wabup dari dua kubu partai Golkar itu.</p> <p>“Memang ketua kami Pak Agus Salim tidak hadir dalam pertemuan itu. Sehingga tidak bisa ikut tandatangan dalam usulan itu. Yang kedua karena perbedaan nama calon wabup. Kalau dari kami, selama tidak perubahan nama calon wabup dari DPD I, maka kami akan tetap dengan usulan kami,” kata Hartono ketika dikonfirmasi via telepon selularnya.</p> <p>Sekedar diketahui sampai saat ini, Partai Golkar kedua kubu masih bersikukuh dengan calonnya masing-masing. Partai Golkar versi ARB mengusulkan nama dr. Buntaran, sedangkan Partai Golkar versi AL mengusulkan nama H. Hartono sebagai calon wabup. Perbedaan kedua nama ini memungkinkan proses pemilihan wakil bupati Lumajang masih akan menghadapi jalan berliku yang cukup panjang.</p> <p>Sementara DPD PAN Lumajang mencalonkan Ir. Lutfi Irbawanto, sedangkan Partai Demokrat mengusung nama dr. Buntaran mantan Sekda Lumajang. Usulan Partai Demokrat ini sama dengan usulan dari Partai Golkar versi ARB. Munculnya Partai Golkar versi ARB yang mengklaim sebagai Partai Golkar yang diakui oleh Kementerian Hukum dan HAM, menjadikan proses ini lebih lama karena kedua kubu masih ngotot dengan calon nama calon wabup yang berbeda.</p> <p>Sementara PLt Ketua DPD PAN Lumajang Usman Arif yang dikonformasi secara terpisah mengatakan, pasca pertemuan yang berlangsung jumat (14/) malam, sampai sekarang belum ada egenda untuk melalukan pertemuan lagi. “Tidak ada agenda pertemuan lagi sampai sekarng mas, bahkan sekarang para calon sudah sampai pada tahap melengkapi persyarata administrasi. Itu saja yang saya tahu mas,” kata Usman Arif. (fat)</p>

    "> Partai Golkar AL dan ARB Belum Satu Nama, Pe...
  • "> H. Lutfi Irbawanto SH : “Pemilihan Wabup L...
  • "> H. Hartono : Bupati Harus Gunakan Azas Legal...
  • "> Tiga Parpol Sudah Bertemu Bupati, Dua Kubu P...
  • Aneka Rupa

    Nenek Ponisah, Tukang Pijat Balita Akhirnya Berangkat Haji

    Rabu, 26 Agustus 2015
    Nenek Ponisah, Tukang Pijat Balita Akhirnya Berangkat Haji <p><strong> </strong></p> <p><strong><span class="easy_img_caption" style="display:inline-block;line-height:0.5;vertical-align:top;background-color:#none;text-align:left;width:338px;float:left;margin:8px;8px;"><span class="easy_img_caption_inner" style="display:inline-block;line-height:normal;color:#000000;font-size:8pt;font-weight:normal;font-style:italic;padding:3px 5px;margin:0px;">Sejumlah mahasiswa ketika membantu warga membuat mesin dongki</span></span>Wartalumajang.com</strong> - Musim kemarau yang berkepanjangan dan mengakibatkan bencana kekeringan disejumlah kecamatan di Lumajang nampaknya menggugah para mahasiswa Universitas Muhamadiyah Malang yang tengah melakukan KKN di Desa Mojo Kecamatan Padang, mereka bergotong royong bersama warga membuat mesin dongki untuk mengalirkan air bersih dari sumber mata air ke pemukiman warga.</p> <p>Puluhan mahasiswa yang tengah elaukan KKN ini bersama warga bahu membahu memasang pipa paralon mulai dari sumber mata air menuju ke pemukiman warga yang jaraknya sekitar 1 km, sedangkan mesin dongki yang dipasang di sumber mata air dimodifikasi oleh mahasiswa ini tanpa menggunakan bahan bakar maupun listrik, sebagai penggeraknya adalah aliran air yang ada disumber tersebut.</p> <p>Adita Putri, salah satu mahasiswi yang ikut dalam kegiatan tersebut mengatakan, dia bersama kawan-kawannya tergerak ketika melihat nasib warga Desa Mojo yang sering kekurangan air bersih ketika musim kemarau tiba, mereka harus berjalan hampir 1 km untuk mendapatkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. “Ini merupakan salah satu karya nyata kami sebagai mahasiswa dalam membantu masyarakat,” katanya.</p> <p>Dia juga berharap agar pemerintah daerah segera tanggap dengan penderitaan yang dialami warganya, karena menurut warga krisis air bersih ini selalu dialami warga setiap musim kemarau tiba. “Untuk mengatasi krisis air bersih yang ada di Lumajang ini perlu ada upaya nyata dari pemerintah daerah,” ujar gadis manis ini.</p> <p>Sementara itu warga sekitar mengaku senang dengan kegiatan sosial yang dilakukan mahasiswa ini karena sudah bertahun-tahun warga Desa Mojo selalu mengalami krisis air bersih saat musim kemarau. “Setelah ada mesin ini warga tidak perlu jauh-jauh untuk mencari air bersih mas,” ungkap Suroso, warga sekitar.</p> <p>Selain membuat atau memodifikasi mesin dongki secara manual para mahasiswa juga membuat tandon air yang berfungsi untuk menyimpan air bersih yang dialirkan melalui mesin dongki tersebut. (ww)</p>

    "> Krisis Air Bersih, Mahasiswa Bantu Warga Bik...
  • "> Perempat Final Sepak Bola Dandim Cup Dibuka ...
  • "> Ketua KONI Mendatang Harus Mampu Membangun K...
  • "> LIRA Lumajang : Kalau Tidak Bisa Berbenah, P...
  • Peristiwa

    Polisi Tangkap 6 Anggota Komplotan Curwan

    Jumat, 28 Agustus 2015
    Polisi Tangkap 6 Anggota Komplotan Curwan <p><strong><span class="easy_img_caption" style="display:inline-block;line-height:0.5;vertical-align:top;background-color:#none;text-align:left;width:313px;float:left;margin:8px;8px;"><span class="easy_img_caption_inner" style="display:inline-block;line-height:normal;color:#000000;font-size:8pt;font-weight:normal;font-style:italic;padding:3px 5px;margin:0px;">Tim SAR dibantu warga ketika mengevakuasi perahu</span></span>Wartalumajang.com</strong> - Nasib tragis dialami 5 nelayan asal Puger Jember, perahu yang mereka naiki terbalik setelah dihantam ombak ganas dipantai selatan yang masuk wilayah Dusun Meleman Desa Wotgalih Kecamatan Yosowilangun, Kamis (27/8). Dalam peristiwa tersebut hanya satu nelayan yang berhasil selamat setelah berhasil berenang ke pesisir pantai sedangkan 4 lainnya hilang terbawa arus laut.</p> <p>Ribowo, S.Sos, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang kepada media ini mengatakan, keempat korban yang sampai saat ini masih dalam pencarian diantaranya bernama Atim (44), Armo (54), Sutik (36) dan Lehan (46). Seluruhnya warga Desa Puger Wetan Mandaran, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember.</p> <p>Sedangkan seorang korban yang berhasil selamat bernama Misto, juga warga Desa Puger Wetan Mandaran, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember." Korban Misto selamat karena setelah terhantam ombak dan perahunya terbalik, terseret arus ke pesisir. Sedangkan, keempat awak perahu lainnya terseret ombak ke arah laut dan sampai saat ini masih belum ditemukan," kata Ribowo.</p> <p>Insiden hantaman ombak yang mengakibatkan perahu nelayan tradisional terbalik ini, terjadi sekitar pukul 04.50 WIB. Dari informasi yang dihimpun, nelayan ini merupakan nelayan asal Puger yang mencari ikan sampai ke perairan selatan Lumajang. Perahu yang diawakinya bergerak menuju ke arah barat dan melintas di perairan Dusun Meleman, Desa Wotgalih, Kecamatan Yosowilangun.</p> <p>"Namun, perahu tersebut ternyata terlalu menepi. Sehingga ketika melaut ke arah barat di pesisir Dusun Melemen, tiba-tiba datang terjangan ombak tinggi yang mengakibatkan perahu dengan lima awak tersebut terbalik," bebernya.</p> <p>Ketika perahu nelayan tradisional berukuran kecil tersebut terbalik, ombak juga menyeret perahu tersebut ke arah pesisir hingga terdampar di tepi pantai. " Saat ini, perahunya sudah dievakuasi dengan dibawa ke pinggir pantai oleh masyarakat dibantu Tim SAR, TRC (Tim Reaksi Cepat) BPBD dan TNI/Polri. Sedangkan, empat nelayan lainnya masih dalam pencarian,” ungkapnya.</p> <p>Untuk melakukan pencarian, BPBD Kabupaten Lumajang mengerahkan delapan personel Tim SAR ke lokasi ditambah empat personel TRC. Tim bergabung dengan masyarakat dan unsur TNI/Polri yang sudah melakukan penyisiran. "Guna melakukan pencarian, tim yang turun ke lokasi kejadian juga dilengkapi peralatan berupa perahu karet, life jacket, pelampung dan lainnya," ujar Ribowo.</p> <p>Hingga siang kemarin, upaya pencarian terhadap empat nelayan yang hilang di laut pantai selatan Dusun Meleman, Desa Wotgalih terus dilanjutkan. Puluhan tim pencarian gabungan dari SAR Kabupaten Lumajang, TRC (Tim Reaksi Cepat) BPBD, unsur TIM/Polri dibantu masyarakat terus melakukan penyisiran di sepanjang pantai selatan setempat. Bahkan, Tim SAR dan TRC BPBD dilengkapi peralatan pencarian penyisiran laut dengan perahu karet. Dimana, upaya penyisiran laut ini juga dibantu beberapa nelayan tradisional setempat.</p> <p>"Namun upaya penyisiran melalui jalur laut tidak mudah dilakukan. Sebab Tim SAR dan TRC terkendala ketinggian ombak. Sejak pagi tadi, ombak laut selatan memang menerjang ganas sehingga perahu karet dan perahu nelayan setempat yang dikerahkan juga harus berhati-hati. Karena ketinggian ombak dilaporkan lebih dari 2 meter," jlentreh Ribowo.</p> <p>Dengan kendala tersebut, dia menambahkan, upaya pencarian dimaksimalkan dengan melakukan penyisiran melalui jalur pesisir pantai. Caranya, dengan menempatkan kelompok-kelompok pencari dengan melibatkan warga setempat di titik-titik tertentu.</p> <p>"Kami juga berkoordinasi dengan warga di sepanjang pesisir pantai selatan lainnya. Jika korban menepi atau terseret ke pesisir, bisa segera diketahui lokasi keberadaannya dan bisa segera mendapat pertolongan," paparnya.</p> <p>Untuk pencarian terhadap keempat korban nelayan yang belum ditemukan ini, BPBD Kabupaten Lumajang juga akan melakukan koordinasi dengan Basarnas untuk mendapatkan back-up tambahan personel. "Sebab, Tim Basarnas memiliki keahlian tersendiri untuk melakukan pencarian di laut," tuturnya.</p> <p>Selain itu, BPBD Kabupaten Lumajang juga akan melakukan koordinasi dengan pihak Satpolair di Kecamatan Puger untuk membantu pencarian. "Dengan adanya tambahan back-up personel dengan kemampuan dan keahlian khusus menyisir laut, diharapkan korban bisa segera ditemukan," pungkas Ribowo.</p> <p>Informasi yang diperoleh media ini, hingga sore keempat nelayan yang dinyatakan hilang tersebut masih belum ditemukan, sedangkan kondisi bangkai perahu yang sudah dievakuasi dipotong-potong menjadi empat bagian dan karena kondisi sudah mulai gelap maka pencarian akan dilanjutkan esok paginya. (ww)</p>

    "> Perahu Terbalik Dihantam Ombak Ganas, Empat ...
  • "> 2 Nenek Diamankan Polisi Karena Jual Miras...
  • "> Truk Muat Aspal Tabrak 5 Mobil, Dua Mobil Ma...
  • "> Pulang Dari Rumah Pacar, Ali Dilempar Bondet...
  • Wisata Budaya

    Bupati Resmikan Museum, Dan Pastikan Tim Cagar Budaya Segera Dibentuk

    Senin, 24 Agustus 2015
    Bupati Resmikan Museum, Dan Pastikan Tim Cagar Budaya Segera Dibentuk <p><strong><span class="easy_img_caption" style="display:inline-block;line-height:0.5;vertical-align:top;background-color:#none;text-align:left;width:448px;float:left;margin:8px;8px;"><span class="easy_img_caption_inner" style="display:inline-block;line-height:normal;color:#000000;font-size:8pt;font-weight:normal;font-style:italic;padding:3px 5px;margin:0px;">Bupati Lumajang menunjuk salah satu peninggalan sejarah Lumajang</span></span>Wartalumajang.com</strong> - Pembentukan tim ahli cagar budaya merupakan sebuah keharusan agar benda-benda peninggalan bersejarah bisa segera diselamatkan dan diregister. Jika tidak tim ahli cagar budaya ini tidak dibuat, apalagi masih menunggu PP (Peraturan Pemerintah) yang belum jelas sampai kapan, maka seluruh benda yang layak masuk sebagai cagar budaya atau kawasan cagar budaya, akan musnah atau dihabiskan oleh para pencuri.</p> <p>“Ini mendesak untuk segera dibentuk. Kan acuannya sudah ada, yakni Undang-Undang Nomer 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya,” kata Y. Hanan Pamungkas, Ketua Ikatan Ahli Arkeologi (IAA) Jawa Timur, pada saat menghadiri Pembukaan Museum Kabupaten Lumajang, di KWT, Senin (24/8) siang.</p> <p>Dijelaskan, saat ini, benda-benda cagar budaya yang diduga tersebar dibeberapa titik di Lumajang, perlu diselamatkan dan tidak diburu oleh para kolektor yang tidak bertanggung jawab. Pemerintah daerah, dalam hal ini Disbudpar, tidak perlu terlalu rumit atas belum terbitnya PP yang mengatur secara teknis masalah tim ahli cagar budaya.</p> <p>“Kalau menunggu PP terbit, bisa-bisa habis benda yang termasuk benda cagar budaya. Keburu kalah cepat dengan malingnya. Benda benda, tersebut juga gak bisa terkontrol dan gak terregister. Siapa yang akan melakukan itu semua? Ya tim ahli cagar budaya. Jadi, menurut saya gak perlu menunggu PP,” kata Y. Hanan Pamungkas, kemudian.</p> <p>Karena tidak ada PP yang mengatur teknis pembentukan tim ahli cagar budaya, maka aturan yang ada saja dipakai. Seperti UU No. 11 Tahun 2010 maupun perda yang sudah disahkan. Tim ahli cagar budaya, kata Y. Hanan, bisa diangkat dengan acuan perda yang sudah dibuat.</p> <p>“Nanti kalau PP sudah jadi kan bisa diperbaharui. Kalau tim ahlinya misalnya harus bersertifikasi kan tinggal disertifatkan. Intinya, kita jangan nunggu PP yang belum jelas sampai kapan,” ujarnya.</p> <p>Apalagi misalnya perdanya menyebutkan bahwa, tim ahli cagar dibuat atau ditindak lanjuti dengan pembuat perbup. “Itu yang dijadikan acuan. Bupati tinggal menerbitkan perbup, selesai,” imbuhnya.</p> <p>Di tempat yang sama, Dra. Endang Prasanti, Kabid Museum Sejarah dan Purbakala Jawa Timur, menjelaskan, terkait museum dan pembentukan tim ahli cagar budaya diatur dalam UU No.11 Tahun 2010, dan sebetulnya yang membentuk assasment tim ahli cagar budaya adalah dari pusat. Namun, dengan adanya perda dan perbub, maka tim ahli ini sudah bisa dibentuk.</p> <p>“Atau pemerintah daerah bisa melakukan konsultasi kepada pemerintah pusat. Nanti pemerintah pusat akan memutuskan apakah akan dilakukan assessment atau alternatif lain tim ahli dibentuk dulu oleh pemerintah daerah,” ujarnya.</p> <p>Ditanya apakah tidak menyalahi aturan perundang-undangan pembentukan tim ahli cagar karena tidak adanya PP yang secara teknis mengatur masalah ini, dia menyatakan tidak ada persoalan. Sepanjang ada cantolan hukumnya yakni undang undang tentang cagar budaya dan perda, maka pembentuk tim ahli cagar budaya bisa segera dilakukan.</p> <p>“Ketimbang nanti ada penggalian secara liar, gimana coba. Kalau masih menunggu PP, habislah kita. Keburu habis tuh benda-benda cagar budaya. PP nya nanti terbit tapi benda cagar budaya nya udah hilang. Jadi, gak perlu nunggu PP,” tukasnya.</p> <p>Yang penting kata Endang, panggilan karibnya, Undang-Undan No. 11 Tahun 2010 dan perda tentang cagar budya yang sudah didok bisa disosialisasikan kepada masyarakat kemudian diikuti pembentukan tim ahlinya. “Jadi keberadaan museum dan tim ahli cagar budaya mendesak,” imbuhnya. (syam)</p>

    "> Membentuk Tim Ahli Cagar Budaya Tak Perlu Nu...
  • "> Meriah…! Konser Amal Untuk Situs Biting...
  • "> Kekhawatiran Bahaya Air Terjun Tumpak Sewu A...
  • "> Wisata Alam Cuban Sewu Baru Bisa Dikembangka...
  • Mansur Hidayat, Ketua MPPM TimurMansur Hidayat, Ketua MPPM TimurWartalumajang.com - Situs Biting terletak di Dusun Biting, Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang. Situs ini adalah suatu kawasan bekas ibu kota kerajaan Nusantara yang dikelilingi oleh 3 sungai besar (Bondoyudo di utara, Ploso di barat, Bodang di timur) dan 1 sungai buatan Cangkring di selatan. Di sisi dalam sungai-sungai tersebut dapat diketemukan benteng yang melingkari dengan ketebalan bervariasi antara 3-6 meter, tinggi antara 6-10 meter dan panjang melingkarinya antara 8-10 kilo meter. Dengan ketebalan dan panjangnya dapat dikatakan bahwa situs ini merupakan situs terbesar dan terpanjang di Indonesia. Dari sisi arsitektur, situs ini merupakan contoh benteng lokal Nusantara.

    Situs Biting ini diketemukan pertama kali oleh J Mageman pada tahun 1861 dan kemudian di teliti ulang oleh A. Muhlenfeld pada tahun 1920. Menurut penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta yang dimulai tahun 1982-1991, kawasan Situs Biting memiliki luas 135 hektar yang mencakup 6 blok/area yaitu blok keraton seluas 76,5 ha, blok Jeding (Taman Sari) 5 ha, blok Biting 10,5 ha, blok Randu 14,2 ha, blok Salak 16 ha, dan blok Duren 12,8 ha. Di blok-blok tersebut, kita dapat diketemukan kawasan pemukiman, kawasan pemandian atau Taman sari dan kawasan peribadatan. Begitu kayanya akan benda-benda bersejarah, di kawasan ini banyak ditemukan bersebaran artefak-artefak seperti keramik cina dari aabd ke-12 sampai 16, gerabah kuno maupun batu bata kuno.

    Menurut catatan sejarah, Lamajang merupakan suatu wilayah yang cukup penting sejak jaman kerajaan Kediri pada abad ke 12 dan kerajaan Singosari pada abad ke-13. Setelah Singosari runtuh dan awal berdirinya kerajaan Majapahit, dalam beberapa catatan kuno seperti Prasasti Kudadu yang kemudian diperkuat oleh Babad Negara Kertagama, Babad Pararaton, Kidung Harsawijaya, Kidung Ranggalawe, Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Sorandaka, diberitakan bahwa Adipati Sumenep Arya Wiraraja dan Raden Wijaya mengadakan perjanjian kerja sama untuk membagi pulau Jawa menjadi 2 wilayah yang sama besar. Setelah kemenangan besar atas Prabu Jayakatwang di Kediri dan pengusiran tentara Tar Tar pada tahun 1292 Masehi, maka setahun kemudian pada 10 Nopember 1293 Masehi berdirilah 2 kerajaan besar yaitu Majapahit di sebelah barat dengan raja Raden Wijaya atau Kertarajasa Jayawardana dan Lamajang Tigang Juru dengan raja yaitu Arya Wiraraja. Dalam runutan sejarahnya salah satu putra Arya Wiraraja yang bernama Mpu Nambi telah membuat benteng besar di Pajarakan sebagai pertahanan ketika Majapahit hendak menyerang Lamajang Tigang Juru.

    Secara pasti, kita tidak mengetahui siapa pendiri dari benteng tersebut. Namun berdasar runutan sejarah dan bukti-bukti arkeologi yang mengatakan bahwa benteng dan pemukimannya dibangun pada sekitar abad ke-14, maka terdapat kesimpulan awal bahwa benteng ini dibangun pada masa Arya Wiraraja dan kemudian dilanjutkan oleh para penerusnya seperti Mpu Nambi dan seterusnya. Hal ini juga diperkuat oleh survey lapangan MPPM Timur di mana banyak batu bata di kawasan situs ini yang bermotif clurit dan juga terdapat kesamaan istilah ketika menyebut menara pengintai di situs Batu Putih di Sumenep dengan nama “Pengongakan” dan di situ Biting dengan nama “Pengungakan”. Hal ini penting untuk dijelaskan supaya sejarah Indonesia mengetahui bahwasanya kawasan ini bukan merupakan peninggalan kerajaan Majapahit, tetapi menunjuk pada penguasa lokal sebagai pemangku kepentingan yang seungguhnya.

    Dalam kaca mata pelestarian, “Pengupasan” dinding benteng ini sangat penting dilakukan supaya dapat menunjukkan buktinya nyata peninggalan sejarah yang ada di Kabupaten Lumajang kepada masayarakat Lumajang pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Perwujudan bukti terhadap situs ini sangat penting dikarenakan selama ini sejarah Indonesia kurang mengenalkan peninggalan-peninggalan kuno di bekas wilayah kerajaan Lamajang Tigang Juru yang meliputi Kabupaten Lumajang pada khususnya dan Kawasan Tapal Kuda pada umunya.

    Kawasan Situs Biting yang menurut kajian akademis merupakan Kawasan Lindung Budaya sendiri cenederung diterlantarkan dengan dibangunnya Perumahan Nasional yang meliputi 15 Hektar areal situs pada tahun 1996. Pada awal tahun 2011 setelah ada advokasi Lembaga Swadaya Masyarakat bernama Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit Timur (MPPM Timur) pemerintah Kabupaten Lumajang sebenarnya telah membentuk Tim peletarian dan Perlindungan Cagar Budaya Kabupaten Lumajang dengan SK Bupati 188.45/41/427.12/2011 tanggal 23 Februari 2011 yang kemudian menghasilkan rekomendasi untuk melindungi Situs Biting sebagai Kawasan Cagar Budaya. Disamping itu Kementrian Sekretariat Negara juga telah mengirimkan surat kepada Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala, Direktorat Peninggalan Purbakala dan Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur dengan surat B-335/Kemsetneg/D-3/Ormas-LSM/SR.02/11/2011 pada tanggal 2 Novemver 2011 yang meminta penanganan masalah Situs Biting sebagaimana laporan dari LSM MPPM Timur. Tindak lanjut daripada hal tersebut, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur melalui surat KS.002/0672/BP3JT/KPK/2012 menurunkan Tim Verivikasi untuk melakukan langkah pendataan Cagar Budaya Kabupaten Lumajang termasuk dengan prioritas Situs Biting.

    Namun dalam perkembangannya, pemerintah Kabupaten Lumajang belum menujukkan langkah-langkah nyata pelestarian kawasan ini. Bahkan yang lebih menyedihkan, pada sekitar 6 bulan lalu, Perumnas Biting indah melakukan pembangunan perumahan kembali dengan merusak benteng barat yang dilindungi berdasarkan surat rekomendasi Tim Pelesatrian dan Pelindungan Cagar Budaya Kabupaten Lumajang. LSM MPPM Timur sebenarnya sudah melayangkan surat protes ini ke Pemerintah Kabupaten Lumajang, namun sampai sekarang belum ada langkah-langkah nyata untuk mencegah perusakan oleh Perumnas Biting tersebut.

    Sebagai kesimpulan, pengupasan dinding benteng ini sangat diperlukan untuk menunjukkan kepada masyarakat Lumajang akan situs bersejarah kebanggaannya dan kepada Pemerintah Kabupaten Lumajang bahwa semua kalangan baik pelajar, mahasiswa, pemuda, akademisi, peneliti maupun berbagai kalangan masyarakat baik di Lumajang maupun di Indonesia menginginkan bahwa Kawasan Situs Biting dalam keadaan darurat untuk dilindungi dan dilestarikan.

    Berdasarkan pertimbangan akademis sesuai dengan penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta dan hasil Tim Verivikasi Cagar Budaya BP3 Jawa Timur dimana Situs Biting adalah suatu Situs yang mempunyai ukuran Nasional dan sekarang sedang dalam keadaan darurat karena adanya perusakan massif, maka Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit Timur meminta Pemerintah Pusat dalam hal ini Pemerintah Republik Indonesia untuk menetapkan secara langsung Situs Biting sebagai Kawasan Situs Nasional sebagaimana Kawasan Situs Trowulan, Kawasan Situs Candi Muara jambi dan Kawasan Gunung Padang.

    Sumber : Press Realese MPPM Timur

     

     

     

    Web Designer